ini cerita tidak terlalu baru, meski tidak juga usang. ini cerita yang terus berjalan meski tidak setiap tahun. bisa juga dikatakan setiap tahun sebagiannya. ini cerita hanya hangat dalam beberapa hari, setelah itu dilupakan, dan mungkin berulang lagi.
begitulah, persoalan yang terjadi di Indonesia ketika para pemimpin organisasi Islam dan pemerintah menetapkan jatuhnya 1 Ramadhan maupun 1 Syawal. jika organisasi Muhammadiyah jauh-jauh hari sebelum waktu tiba sudah mengumumkan jatuh 1 Ramadhan maupun 1 Syawal, maka tidak dengan mayoritas organisasi Islam yang kebanyakan dalam naungan Nahdhatul Ulama (NU). Biasanya beberapa jam sebelum jatuhnya hari-hari besar tersebut, atau bisa jadi lebih dari 24 jam jika berbeda dengan jadwal yang ditetapkan Muhammadiyah.
saya mendapat banyak cerita langsung bagaimana kecelenya sebagian masyarakat yang sudah bersiap-siap merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1432 hijriah, sehari sebelum diperkirakan jadwal versi pemerintah. ada pejabat daerah yang pulang lagi, tidak jadi ikut takbir akbar bersama masyarakat. ibu-ibu terpaksa menyimpan ketupat, lontong maupun gulai yang sudah dimasak. bagaimana saudara-saudara di indonesia timur yang ketika ditetapkan pemerintah, waktu setempat menunjukkan pukul 21.30 WIB? sudah tarawih, atau sudah takbiran?
saya tak begitu masalah dengan soal perbedaan ini, karena keyakinan dari kecil. cuma lebih prihatin dengan teman-teman dan masyarakat yang bingung setiap ramadhan dan syawal tiba karena pemerintah selalu memberikan last minute yang mungkin berbeda dari perkiraan khalayak ramai.
maka pertanyaan mencuat dari banyak orang. kenapa indonesia tidak bisa bersatu dalam merayakan hari-hari suci ini? kalaupun tidak bisa, apakah masyarakat bisa ditenangkan dari keraguan dan berbagai tanya. misalnya, kenapa pemerintah sering berbeda dengan negara arab saudi atau mesir, yang kita tahu memiliki resources yang mumpuni dalam penetapan 1 ramadhan maupun 1 syawal (juga 10 zulhijjah)? apakah ada persaingan antar kelompok islam sehingga sidang istbat lebih pada dominasi satu kubu dan menafikan pendapat minor, seperti tampaknya hilal dari cakung jakarta timur dan satu daerah lainnya?
apakah kementerian agama sudah efektif dengan menerima laporan observasi hilal dari organisasi islam yang sebagian besar underbouw dari NU? sejauh mana kemenag bisa memiliki resources dan determinasi seperti di negara-negara berpenduduk islam lainnya?
dan tak kalah pentingnya, seperti laporan moonsighting.com, kenapa indonesia berbeda dengan malaysia dan singapura yang notabene dalam sidang istbat disebutkan selalu bersama dalam semangat asean untuk menentukan jatuhnya hari penting ini? kenapa indonesia menjadi satu dari 4 negara di dunia yang merayakan 1 Syawal 1432 H pada 31 Agustus 2012, selain Oman, Afrika Selatan dan Selandia Baru? bahkan pada hari Idul Adha 2010 M, pemerintah berbeda dengan negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, tempat pelaksanaan ibadah haji.
saya bukan orang ahli dalam hisab, rukyat maupun melihat hilal. tapi, orang yang gundah dengan ketiadaan otoritas yang disegani dan disepakati semua pihak di negeri ini, khususnya oleh umat Islam. sudah selayaknya pemerintah belajar dari kebingungan ini dan organisasi Islam di dalamnya tidak berkompetisi tidak sehat dalam menegakkan hujjah masing-masing, jika memang ditakdirkan sering berbeda. hargai juga mereka yang berbeda dari pemerintah, tidak dengan melarang umat yang ingin melakukan ibadah di hari yang berbeda dari pemerintah. entahlah jika semua pihak sudah bisa menerima keputusan pemerintah yang juga sejalan dengan semangat umat islam seantero dunia. karena umat islam itu bersaudara.