Memulai Revolusi dari Diri

Start a revolution from my bed, begitu penggalian nyanyian rocker; Lantas, apakah revolusi perlu dipakai dalam wacana Indonesia yang sudah merdeka secara kebangsaan formal 66 tahun itu? Apakah Anda alergi dengan kata-kata revolusi? Hmm, bagi saya salut-kusut negeri ini perlu revolusi, tinggal gradasinya, sejauhmana, skala apa, media apa dan dalam hal apa; jika setiap diri di bangsa ini ada revolusi untuk mau mengubah negeri yang kusut ini menjadi lebih baik, tentu revolusi yang berguna; apakah ada revolusi damai, apakah ada revolusi diri dalam kamus pergerakanperjuangan>

evolusi yang diakselerasi, kata temanku mengutip bj habibie, tapi maknanya sama, karena banyak yang alergi dengan kata-kata revolusi.mau pakai kata evolusi ataupun revolusi, kita harus mengubah indonesia ke jalan yang lebih baik, ke keadaan yang lebih dinikmati oleh rakyatnya, ke kondisi bangsa yang mengharamkan korupsi, memakmurkan bangsa dan peduli dengan orang-orang yang lemah maupun dilemahkan;

negeri ini berpotensi maju, cuma jika orangorang yang takmaju berada di garisdepanmaju, anda mau apa? bergerak tapi tak majumaju; karena itulah perlu revolusi, bisa tanpa fisik, tapi yang jelas harus ada perubahan radikal, minimal secara mental dan struktural; jika negara lain sudah antikorupsi, sudah melindungi kepentingan bangsa dan rakyat yang lebih besar, kenapa anda masih juga membela kepentingan segelintir orang dan mengatasnamakan bangsa? kenapa juga memuja jargon pembangunan ala orba padahal itu menghancurkan hutan dan lingkungan, menindas hakhak orang kecil maupun alam yang tak banyak pembela itu? kenapa juga secarik izin yang koruptif dan sepihak itu dianggap legalitas paling suci dan tak bisa diganggugugat? tidak takutkah mereka itu, setiap keputusan dan dampaknya nanti dipertanggungjawabkan di akherat kelak? di dunia anda bisa membungkam dan menyuap serta melobi, tapi anda tak bisa menyuap malaikat pencatat dosa maupun pahala;

kesadaran untuk mengakhiri kebodohan bangsa adalah revolusi; memaksakan pengemban bangsa untuk lebih peduli dengan anakbangsa juga revolusi, dan mengubah aturan dan undangundang lebih berpihak kepada kepentingan besar, juga revolusi; dan tidak mau ikut dalam persengkokolan keserakahan dan penghancuran juga bagian revolusi. dan Allah tidak akan mengubah nasib satu kaum bangsa jika mereka tidak mau mengubahnya sendiri, begitu terjemahan bebas salah satu firman Allah yang mengiang di telingaku. mengubah nasib adalah revolusi.

tentang siapa

Ada satu negeri yang gegap gempita, mencampuri yang terang dan kelam
pemimpin-pemimpinnya menjaga muruah pribadi dan kelompok
daripada bangsanya
taklagi bisa membedakan mana pribadi mana kepentingan rakyat
yang senang bermewahmewah seperti tiap hari adalah kenduri saja
bolakbalik rumah – bandar besar, entah untuk apa
mereka seperti raja di siang bolong di tengah sesaknya hati
kaum dhuafa
memainmainkan dana negara untuk sesukasukanya
membuat monumen dan bermegahan itu hobinya
meminta dana seperti anak membeli mainan pesawat terbang
habis uang diminta lagi seperti ini negeri bapaknya saja
menghancurkan tatanan dan barisan yang menghalanginya
membuat boneka untuk menjadi pengumpul pundi
hutan rusak asap menggelap
tapi mereka tenang saja
berzigzag entah kemana dan yang pasti disorot kamera
mereka marah kalau ditegur, mengancam bunuh kalau dituduh
karena mereka adalah raja di negeri yang dulunya agung luhur
mereka kejam tapi suka tersenyum di balihobaliho kota
di korankoran apa namanya yang penuh iklan diari penguasa
orangorang sudah muak makin bertambah
tapi tak tahu mau berbuat apa
karena mereka ini suka berbuat apa saja
“kamu orang mana?” begitu ancamnya
dan saya sudahi saja

bukan cerita baru

ini cerita tidak terlalu baru, meski tidak juga usang. ini cerita yang terus berjalan meski tidak setiap tahun. bisa juga dikatakan setiap tahun sebagiannya. ini cerita hanya hangat dalam beberapa hari, setelah itu dilupakan, dan mungkin berulang lagi.

begitulah, persoalan yang terjadi di Indonesia ketika para pemimpin organisasi Islam dan pemerintah menetapkan jatuhnya 1 Ramadhan maupun 1 Syawal. jika organisasi Muhammadiyah jauh-jauh hari sebelum waktu tiba sudah mengumumkan jatuh 1 Ramadhan maupun 1 Syawal, maka tidak dengan mayoritas organisasi Islam yang kebanyakan dalam naungan Nahdhatul Ulama (NU). Biasanya beberapa jam sebelum jatuhnya hari-hari besar tersebut, atau bisa jadi lebih dari 24 jam jika berbeda dengan jadwal yang ditetapkan Muhammadiyah.

saya mendapat banyak cerita langsung bagaimana kecelenya sebagian masyarakat yang sudah bersiap-siap merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1432 hijriah, sehari sebelum diperkirakan jadwal versi pemerintah. ada pejabat daerah yang pulang lagi, tidak jadi ikut takbir akbar bersama masyarakat. ibu-ibu terpaksa menyimpan ketupat, lontong maupun gulai yang sudah dimasak. bagaimana saudara-saudara di indonesia timur yang ketika ditetapkan pemerintah, waktu setempat menunjukkan pukul 21.30 WIB? sudah tarawih, atau sudah takbiran?

saya tak begitu masalah dengan soal perbedaan ini, karena keyakinan dari kecil. cuma lebih prihatin dengan teman-teman dan masyarakat yang bingung setiap ramadhan dan syawal tiba karena pemerintah selalu memberikan last minute yang mungkin berbeda dari perkiraan khalayak ramai.

maka pertanyaan mencuat dari banyak orang. kenapa indonesia tidak bisa bersatu dalam merayakan hari-hari suci ini? kalaupun tidak bisa, apakah masyarakat bisa ditenangkan dari keraguan dan berbagai tanya. misalnya, kenapa pemerintah sering berbeda dengan negara arab saudi atau mesir, yang kita tahu memiliki resources yang mumpuni dalam penetapan 1 ramadhan maupun 1 syawal (juga 10 zulhijjah)? apakah ada persaingan antar kelompok islam sehingga sidang istbat lebih pada dominasi satu kubu dan menafikan pendapat minor, seperti tampaknya hilal dari cakung jakarta timur dan satu daerah lainnya?

apakah kementerian agama sudah efektif dengan menerima laporan observasi hilal dari organisasi islam yang sebagian besar underbouw dari NU? sejauh mana kemenag bisa memiliki resources dan determinasi seperti di negara-negara berpenduduk islam lainnya?

dan tak kalah pentingnya, seperti laporan moonsighting.com, kenapa indonesia berbeda dengan malaysia dan singapura yang notabene dalam sidang istbat disebutkan selalu bersama dalam semangat asean untuk menentukan jatuhnya hari penting ini? kenapa indonesia menjadi satu dari 4 negara di dunia yang merayakan 1 Syawal 1432 H pada 31 Agustus 2012, selain Oman, Afrika Selatan dan Selandia Baru? bahkan pada hari Idul Adha 2010 M, pemerintah berbeda dengan negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi, tempat pelaksanaan ibadah haji.

saya bukan orang ahli dalam hisab, rukyat maupun melihat hilal. tapi, orang yang gundah dengan ketiadaan otoritas yang disegani dan disepakati semua pihak di negeri ini, khususnya oleh umat Islam. sudah selayaknya pemerintah belajar dari kebingungan ini dan organisasi Islam di dalamnya tidak berkompetisi tidak sehat dalam menegakkan hujjah masing-masing, jika memang ditakdirkan sering berbeda. hargai juga mereka yang berbeda dari pemerintah, tidak dengan melarang umat yang ingin melakukan ibadah di hari yang berbeda dari pemerintah. entahlah jika semua pihak sudah bisa menerima keputusan pemerintah yang juga sejalan dengan semangat umat islam seantero dunia. karena umat islam itu bersaudara.

memerdekakan bangsa dari korupsi dan kebangkrutan

66 tahun sudah usia negeri ini, dirgahayu Indonesia. selalu bertanya, sampai dimana kini Indonesia?

kecamuk korupsi mewarnai masamasa menjelang hari lahir republik dan sejumlah masalah yang dihadapi negeri ini. suarasuara nyinyir berusaha mengingatkan bangsa ini agar tak semakin terpuruk ke jurang dalam, biar saja di pinggiran dulu, sebelum rebound, naik lagi ke jalur yang benar.

mogamoga banyak yang waras di negeri ini hingga mau mengubah nasib bangsa ini ke arah lebih baik. tujuan kemerdekaan, kata bung hatta, adalah alat untuk mencapai keadilan dan kemakmuran.

para pendiri bangsa merelakan darah dan jiwa bagi perjuangan kemerdekaan, dilandasi kepatuhan pada ajaranNya. tapi, apa yang diperbuat oleh anakanak ingusan yang kini petantangpetenteng seolah telah berjuang berdarahdarah hingga biasa saja mencuri kekayaan negara, menghamburkan uang rakyat?

anakanak yang sudah sampai di senayan maupun istana serta tempattempat lainnya sudah merasa seperti pahlawan yang layak menguras kekayaan bangsa ini bagi diri mereka sendiri dan partaipartai mereka.

sementara mereka yang benarbenar berjuang sering tak dapat penghargaan layak, contohnya, ilyas karim, pemuda penggerek bendera proklamasi 17 Agustus 1945. lalu, kelompokkelompok penjarah, menguasai negeri ini dengan caracara kotor dan tak beradab, ditambah kolusi dengan pengkianat bangsa yang sengaja melupakan amanat yang disandangnya.

66 tahun negeri ini, saatnya menyikat habis para penjarah dan pembuat bangkrut negeri ini. bangsa ini harus berubah total kalau tak mau masuk jurang. merdekkhh…

masalah bertimbun, negarawan menghilang [hilang pemimpin hilang negeri]

selain korupsi, isu perusahaan migas asing mengemplang pajak juga mencuat saat ini. katanya ada 14 perusahaan asing yang diduga menghindari pajak triliunan rupiah. lantas, bbm subsidi masih terkatungkatung, entah apa kriteria yang akan dipakai dari berbagai opsi silih berganti. pendidikan mahal saat tahun ajaran baru dimulai dan lulusan SLTA mendaftar masuk kuliah. perguruan tinggi lebih menerima orang yang mampu. tentu banyak bakat tak terjaring di negeri ini, khususnya di dunia akademik. biar saja, kuliah bukan hanya tempat keberhasilan dan dunia produktif.

yah, kembali ke heboh korupsi.akibat melarutkan masalah dan penuh ketidaktegasan api yang kecil kini sudah membesar, susah dipadamkan. apalagi tidak ada air yang bisa memadamkannya kecuali harus memasang badan menyerahkan masalah ke pengadilan.

saya tak mau terjebak dengan silang kata antara kelompok terlibat dan tak peduli tentang kontroversi dalam heboh korupsi, contohnya apa yang terjadi pada satu partai. dan partai-partai di indonesia hampir semuanya berkasus korupsi, meski eskalasi berbeda.

artinya negeri ini punya politisi buruk dibanding zaman 1950-1960an. di zaman soeharto sebenarnya korupsi juga banyak, tapi tidak ada yang diadili, jadi seperti aman-aman saja.

sangat memalukan saat ini bagaimana janji reformasi untuk gerakan anti korupsi dikhianati oleh mereka yang mewakili rakyat, termasuk yang jadi pengemban amanat di republik ini. pengadilan, lembaga dan undang-undang antikorupsi dibuat pasca reformasi, namun angka korupsi tak turun-turun. politisi, pejabat, penegak hukum, swasta, ikut aktif dalam kegiatan korupsi.

para koruptor menipu rakyat yang memilih mereka, menjadi orang munafik dibandingkan dengan apa yang mereka katakan semasa kampanye pemilu.

entah kemana nanti aliran frustrasi publik melihat kenyataan uang negara maupun uang pajak rakyat dikorupsi oleh orang-orang yang seharusnya memerangi korupsi. sementara jalan-jalan di negeri ini banyak yang buruk berlobang, fasilitas dan infrastruktur di luar jawa masih jauh dari harapan. orangorang berjuang keras bisa menyekolahkan anakanak, nelayan berjuang bisa melaut. untuk berobat ke rumah sakit, perlu biaya mahal.

di china, baru saja dua pejabatnya dihukum mati karena terbukti korupsi. bagaimana dengan kita? berani?

begitulah, kepemimpinan melawan korupsi hilang. lokomotif menghadang kebobrokan moral bangsa mogok. tak jalanjalan. tak majumaju. banyak penumpang naik di kereta korupsi daripada memperkuat gerbong antikorupsi. dan waktu terus berjalan, entah publik sudah muak, atau jenuh dengan tak ada perubahan, masalah terus ditimbuntimbun. entahlah.

semoga masih banyak di negeri ini seperti hatta dan natsir yang lebih mementingkan bangsanya daripada kepentingan kelompok apalagi pribadi dan keluarga. semoga masih banyak yang waras dan tetap komit memerangi korupsi. chayo.

korupsi takpernah basi

Politik, korupsi dan skandal, jika sehari-hari itu yang Anda dengar, tentu hati terbawa emosi. Kisah dan kabar korupsi tak ada habishabisnya. Datang silih berganti, bermacammacam kelompok dan person yang membuat cerita.

Sudah banyak kisah penuntasan kasus korupsi di negeri ini lebih banyak terjalnya daripada mudahnya. Saya sendiri sering tidak tahan mengikuti kelanjutan kisah korupsi yang berbelitbelit, berputarputar, menawarkan banyak pernakpernik dibanding kefokusan pada determinasi kisah penuntasan tersebut. Banyak kisah sudah hilang dan kita sudah melupakannya seperti itu sudah terjadi dua-tiga dekade silam. Hilang timbul, hilang timbul dan benarbenar hilang. Itu satu pola.

Ada juga segelintir kisah lurus, jelas dan sad ending di penjara. Tapi itu kisahkisah yang dialami orangorang yang tidak terlalu kuat di negeri ini. Tentu tetap bersyukur sudah ada KPK dan kekuatan watchdog korupsi maupun opini publik cukup bergaung dibandingkan zaman Soeharto.

Kembali soal berputarputarnya dan berbelitbelitnya penuntasan kasus korupsi mencerminkan rapuhnya komitmen bangsa ini menuju negeri yang rendah korupsi. Masih setengah hati. Masih tebang pilih. Juga cenderung politik memimpin penegakan hukum terhadap kejahatan korupsi, sehingga sejumlah kelompok saling sandera-menyandera, ciduk-menciduk, curiga-mencurigai.

Kelompok politik atau partai inilah juga biang penghalang penuntasan korupsi. Mereka memiliki barikade masingmasing, semakin kuat pasukan politiknya, makin kuat barikade. Dan di media, penuntasan korupsi beralur seperti striping tayangan sinetron, sesukasuka hati yang membuat skenario, mau muntah pemirsa akan ketidaklogisan dan ketidakwarasan cerita, mereka tak peduli.

Saatnya, anakanak bangsa ini menggoreskan garis jelas dalam perang melawan korupsi maupun kejahatan politik lainnya. Sudah tua usia bangsa, tapi kemerdekaan dan hidup bebas dari korupsi dan KKN seperti barang mahal, apalagi menikmati kekayaan bangsa sendiri.

Berharap saja para politisi, partaipolitik, penyelenggara dan birokrasi negara serius mengurus negara ini, bukan justru ingin mencari keuntungan bagi kelompok dan pribadi mereka di atas kerugian negara.

Tak perlu melebarlebarkan masalah, tak perlu melebaylebaykan keadaan. Banyak orang kecil yang dirundung masalah tapi mereka tetap tegar, toh curhat pun tak ada yang dengar. Mungkin kepada merekalah para penyokong dan pembiar korupsi musti belajar.

*status blog: wahai para politisi dan birokrat, urus negara ini dengan baik, jangan asyik ngurus kelompok sendiri; banyak orang yang lebih malang tapi tak mengeluh sepertimu.

tigabelas baris sajak si

13 tahun reformasi, masih banyak korupsi
yang mengenang reformasi, kini diteriakkan, “basi!”
banyak orang masih mengais cari nasi
tapi mereka lebih terhormat dibanding yang korupsi
sementara para politisi dan pejabat asik minta fasilitasi
bahkan dapat dana komunikasi meski bodoh teknologi informasi
ah, paling-paling kita ngomel pun dianggap cari sensasi
karena memang, uang dan pangkat jaminan aktualisasi
anggota dpr dan pejabat semangat mainkan bujetisasi
pergi studi banding, pulangnya bawa banyak bagasi
oh negeriku yang sudah merdeka dari kolonialisasi
kini masih terjajah berbagai bentuk imperialisasi
seandainya kekayaan negeri terselamatkan, tentu pundi kita makin berisi

–sumatra, 12 mei 2011

tak ada panutan kini

Saat banyak carutmarut kautemui kini, saat orangorang terhormat ternyata makhluk kerdil, malah lebih rendah dibanding kitapikir, maka, tetap berpegang pada kebenaran dan keteladanan. aku kini becermin kepada negarawan kita dulu, yang membaca kisahnya membuat kita menangis. Semoga Allah mengampuni mereka dan memberikan tempat layak di sisi Allah Swt.

bagaimana mungkin aku percaya dengan politisi, pengemban amanat dan para tokohtokoh jika kebanyakan dari mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok. para anggota dewan meminta materi yang banyak, gedung yang mewah padahal entah apa keberhasilan mereka membela rakyat yang makin melarat. pejabat tinggi sibuk menghitung kekayaan dan menanyakan berapa banyak sih gaji yang kudapat, “berapa kekayaan kuraih dibanding si anu dan si fulan”, sementara kerjanya tak beresberes juga, malah semakin kacau memburuk.

para koruptor bergerilya di medan hukum yang sangat ramah suap, ramah KKN, alias KKN-friendly. semua bisa dikorup, begitu mungkin kata Gayus Tambunan, terpidana terkenal di negeri ini. Masih ada gayus kakap lainnya, begitu teriak orangorang yang marah, kasus tak bergerak jauh, memutarmutar dan berpusingpusing, padahal wong cilik sudah lapar, harga cabai naik, harga beras naik, sembako naik. politisi dan pemerintah sudah gagal sejauh ini memberikan ketenangan dan harapan bagi orang banyak, jangan disebut kemakmuran atau istilah utopis lainnya.

saya menangis kalau membaca kisah negarawan radhiyallahu anhum, seperti Bung Hatta, Bung Karno, Agus Salim, M Natsir, dan sejawat mereka yang rela mengorbankan apa saja, tanpa pamrih. orangorang yang tak manja, orang-orang tak mengeluh. Yang tak memikirkan kesehatan dan keselamatan, alih-alih mengeluhkan gaji. Alhamdulillah, banyak orangorang kecil yang tak tampak di media, tak disorot publik, tak suka pujian, tetap berbuat banyak bagi orang lain, bagi negeri ini. mereka lah panutan kita sebenarnya.

Ah, saya tak ingin manja meski para politisi dan pengemban amanat negeri ini begitu lemah hati. saya hanya merasa malu, masih banyak saudara kita yang jauh lebih tegar, jauh lebih kuat menghadapi cabaran hidup yang memang semakin sarat ini, padahal mereka orang-orang biasa. sekiranya semakin dekat denganNya, semakin kuatlah saya. Astaghfirullahal ‘adziim.

Pergantian tahun, untuk apa?

Pergantian tahun selayaknya menitipkan kelebihbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya bunyi terompet dan cahaya kembang api. Apalah jadinya jika kualitas kita terus menurun sementara kita asyik memperingati keramaian setiap tahun baru tanpa bisa mencamkan diri untuk melebihbaikkan tahun baru dari tahun sebelumnya.

Perayaan tahun baru sama dengan perayaan ulang tahun, berarti pengurangan jatah waktu bagi kita. Tak perlu hurahura tentunya kalau kita tahu semakin tahun semakin berat kita berjuang. Sudahkah kita merenungi tahun kemarin apa yang telah kita capai? Sesuaikah dengan target minimal kita, atau senangkah kita dengan perjalanan kita setahun penuh kemarin?

Perayaan tahun baru adalah perayaan pertanyaan-pertanyaan baru, apakah saya akan lebih baik dan lebih kuat? Apakah saya lebih banyak manfaatnya di muka bumi ini, atau? Jika saja kita tak memiliki semangat yang kuat untuk tahun baru, maka perayaan tahun baru hanyalah membegadangkan waktu satu malam yang kebetulan bertepatan pada akhir tahun.

Kita mau diri kita berarti untuk setahun penuh, bukan hanya semalaman seperti terompet dan kembang api. Karena kita tak mau dibuang seperti terompet tahun baru dan kembang api. Kita tak mau berarti hanya untuk semalam. Karena itu, camkan diri: aku harus lebih baik di tahun baru ini. Semoga kita menjadi insan yang lebih baik.

©Afdhal Mahyuddin 2010

waktu yang menebas

waktu terasa kejam, begitu banyak korban yang ditikamnya, termasuk aku. tahuntahun berlalu dengan kesiasiaan, dengan keterbuangan, menyampahi dunia dan tidak membekali ke taman terakhir.
kita mengingat masakecil dan masaremaja dan memintanya kembali, padahal sudah tak mungkin. kita mengingatingat sudah jauhkah perubahan dan maupun citacita tercapai, tapi tak memuaskan. jauh dari target.
bersyukurlah bagi yang bisa menggunakan waktunya dengan bijak dan bermanfaat, terutama manfaat bagi banyak manusia, selain dirinya.
waktu menebas dan menerabas apa yang tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. dan banyak godaan untuk mempercepat waktu terbuang, sedikit kusadari bagaimana waktu bisa berjalan sesuai dengan yang kita sanggupi.
waktu tak menunggu, begitu ujar seorang penyanyi dalam lagunya. semakin hari semakin aku berkaca, waktu banyak menebasku, tanpa bisa menghentikannya karena waktu berjalan seperti sunnahnya. akulah yang membuatnya terlalu cepat berlari karena aku berdiamdiri, seharusnya waktu berlari akupun berlari.
mumbang jatuh, kelapa jatuh, begitu juga waktu, tak pilihpilih orang, dia tetap berjalan, berlari bahkan seperti kilat mengilas. demi masa, demikian firman Allah. dan banyak waktu disebutkan dalam kitab suci.
kini, bisakah aku beradaptasi dengan waktu, tidak membuat gap terlalu jauh, sehingga waktu berjalan, akupun berjalan. jika Sayyidina ‘Ali mengatakan waktu laksana pedang, maka waktu siap menebas apa saja yang tak siap bersamanya. waktu menebas, aku pun harus siap menebas, kalau tak ingin ditebas. terima kasih, waktu, telah mengingatkanku untuk bersiap menuju waktu selanjutnya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.