kelabatkelabatganjil
serangkaian kelabatan kutemui, kutampak bulan ini. aneh dan ganjil tapi bisa mencerahkan bisa memuramkan. akutakpasti apa aku dicecoki terlalu banyak fakta berbingkai perasamedia, yang kitatak tahu apagaramnya terlalu banyak atau tidak. ada anakberbapakmuslimafrika, bermasakecil di jakarta, jadilah ia pimpinan negaraadikuasa. kenapa bisa, ya, kitabisa katanya. bagus ucapku dalamhati. yang ganjil dan takmungkin jadi mungkin kini. semoga tak jadi martir, itutakutku. lagu hurufhuruf di layar dan kertas berkolom, tentang pencabulan guru pada murid sd, di depan anakanaksd, biadab apaada kata lebihpantas, lagi palestina di jalurgaza terancam mati dikurung zionisbengis, dunia takperhatian; sekelabatan yang mencolok tentang krisis dimanamana, mengglobal katanya, hingga ke petanisawit, dari rumahmortgage yang tak terbayarkan, dikembalikan, lalu sahambursa rontok, harga komoditas danminyak anjlok, pialang ditangkap, bank salingmenggigil dan dollar kembali jadi mahal mengalahkan rekor sepuluhtahun silam; orangorang jadi amnesia dan disorientasi; gebyar pemilihan orangorang sokpenting tapi takpenting; ada mobil polisi bertuliskan pemburupreman; yang kawin ya kawin, yang cerai ya cerai, ada yang dihukum mati; dan silangsengketa, ricuh, serta fotocabul gambar cabul cerita cabul dimanana, dihape anakanak, entah mau jadi apa negeri ini kalau uu anticabul dicabuli juga; aku sempoyongan dalam sekelebatan gelap dan terang, begitu cepat, orang lupa dan lupa untuk mencatat, karena nanti ituakan berulanglagi, jadi tak perlu dicatat, mungkin itu pikirnya; ya sudah, biar aku sempoyongan dulu, jangan catat ini karena ia akan datang lagi;
Mau diapakan dunia ini?
Saat tulisan ini diangkat, imperium kapitalisme global sedang terombangambing oleh badai krisis finansial. Ada judul kolom pagi ini kubaca “The end of Economics..” [www.detik.com]; kemarin lusa ada tulisan bertajuk kedengaran seperti “Orang Amerika Hidup dari Utang.” Ada beberapa tulisan CEO Jawa Pos Dahlan Iskan di beberapa gurita persnya menjelaskan bagaimana kerakusan benefit telah menyebabkan orang menuntut untung terus di dalam “berbisnis.” Di Kompas.com malah tulisan mengajak kita kembali ke perekonomian berbasis UUD 1945.
Apakah saya ketawa, sedih, miris, heran, atau bingung? Tentu saja beragam perasaan ini, apalagi bingung juga diri ini mau mendesain persiapan esok berkaca dengan mayoritas yang terlihat.
Singkapan media bahwa abang adik Lehman tumbang, disusul nama-nama beken pebisnis keuangan lainnya, disusul anjloknya bursa saham global (seakan maknyus rasanya memakai kata global ini, ikut bandul kapitalisme lah hayy) telah mencemaskan negeri ini. Presiden dan menteri-menterinya rapat tiap sebentar dengan wajah tidak cerah. Kata bos republik ini, krisis ekonomi akan panjang.
Lalu, kata Dahlan Iskan, Singapura dan Hongkong yang akan parah imbasnya karena menjadi pusat dan perpanjangan tangan raksasa kapitalis global. Di media yang kubaca, beberapa pengrajin eksport di daerah mengeluh karena tidak bisa lagi menjual produk ke Amerika dan Eropa. Harga sawit menukik, karet turun, minyak mentah turun. Harga emas yang naik.
Di penghujung akhir tahun, sebelas tahun silam, saya melihat di teve sebuah hotel di Jayapura, Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad tergopoh-gopoh dikejar wartawan menanyakan krisis moneter yang mulai melanda negeri ini dan negara-negara Asia lainnya. Dan kita tahu, krismon 1997/1998 telah meremukredamkan negeri ini, terjerembab dari janjijanji macan Asia. Mulailah saya ingat dengan kafe tenda, para artis bikin kafe. Lalu, rezim lalim jatuh, chaos sosial di beberapa tempat. Perubahan angin, katanya repormasi. Waktu itu kita seperti dapat kesadaran dan kebangkitan baru. Ahh, ternyata cuma si eforia yang bergembira ria. Paradigma baru hanya janji. Reformasi total hanya mimpi basah di atas bantal.
Haruskah saya ketawa atau cemas saat ini? Saya cuma berusaha mencari celahcelah, secara awam ‘menspekulasikan’ (terlalu berat memakai “memikirkan” karena memikirkan ekonomi rumah tangga saja sudah bukan main sulitnya, he he he). Oya, sampai dimana terputus tadi? Ya, kalau saja kita benarbenar membesarkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM atau SMEs) tentu saja kita kuat. Kalau desentralisasi dan otonomi benar benar berjalan tentu saja makin baik.

Tapi apa yang dilihat? Para pedagang kecil tergusur dari Tanah Abang (dimulai dari kebakaran, upss, ntar aku disomasi lagi) ataupun pasar-pasar yang sengaja direhab untuk dimahalkan sewanya. Lalu, orang berjualan kakilima di semua negeri ini digaruk tramtib atau satpol dengan kekuatan pentungan yang benarbenar pol. Pedagang asongan dikejar kejar.
Pasar tradisional dibiarkan mati, diserang oleh supermarket alias pasar swalayan modern. Ramayana tak lagi banyak tayang di pertunjukkan wayang, tapi menyerang pasar-pasar rakyat hingga ke kota-kota kecil. Jika di Perancis, Carrefour boleh hanya di pinggiran kota, eh di sini mah di jantung kota, kalau perlu di sebelah Istana Negara!!
Pemerintah sengaja membiarkan matinya pasar tradisional dan membesarkan pasar swalayan milik pengusaha itu-itu saja. Bagaimana bicara UKM dan SMEs kalau hal seperti ini saja tidak pernah berubah, bahkan setelah Soeharto tak berkuasa lagi?
Nah, capek deh mengritik pemerintah terus, soalnya belum tentu didengar, karena mereka juga capek kali ya? Begini saja, saya usul, bagaimana kalau kita kembali ke dasar negara kita UUD 1945 maupun Pancasila, terutama yang ada bunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” atau “kepentingan hajat orang banyak dikuasai oleh negara.” Ha ha ha, orang pasti menertawakan saya. Tapi, mana kapitalisme global dan negara adidaya yang kamu bangga-banggakan itu?
Saya hanya orang yang iri dengan nasionalisasi korporasi dan SDA di Bolivia, Venezuela ataupun Iran. Iri dengan kekuatan UKM di Taiwan dan Italia. Kita sudah mengkhianati pendiri dan para pahlawan negeri ini. Ikut larut dengan skenario kapitalisme global yang menggurita di negeri ini dengan para pendukungnya: oknum-oknum terdiri dari ekonom, perencana pembangunan, teknokrat, birokrat, parlemen, media, korporat, BUMN, PNS, NGO, pengusaha, dan sebagainya.
Dan negeri yang kaya ini terus dimiskinkan secara ekonomi dan moral karena orangorang yang berkuasa telah mabuk fulus dan kuasa. Maka saatnya kita sadar dan berubah: kembali ke citacita ibu pertiwi. Berikan kekayaan alam ini bagi pemilik negeri ini, besarkan lah pertanian dan perikanan laut, jalankanlah ekonomi kerakyatan. Jangan banyak berjudi dengan kesemuan kapitalisme itu. Bla, bla, bla, seperti dosen ekonomi saja awak ini, padahal awak tidak kuat secara ekonomi. Jayalah Indonesia, jayalah negeri ini. Astaghfirullah.
Pemilu, si pembuat pilu
Bayangkan jika Anda berkeinginan kuat ikut memilih dalam Pemilu 2009, namun Anda tak tercatat dalam DPT, meski Anda adalah warga yang jelas, memiliki KTP maupun berdomisili lama di tempat Anda tinggal sekarang. Hati Anda sedikit banyaknya akan pilu, tak bisa menyalurkan hasrat demokrasi lima tahunan ini.
Jika Anda seorang caleg yang telah terdaftar resmi di KPU dan telah banyak mengeluarkan biaya untuk persiapannya, namun di hari pemilihan itu nama Anda tak tercantum atau ada di kota saya tak memiliki nomor urut caleg, tidakkah perasaan Anda pilu dan marah?
Belum lagi laporan rendahnya partisipasi pemilih karena jadwal pemilu yang berdekatan dengan liburan akhir pekan yang panjang (long weekend), serta berbagai jenis kecurangan dalam proses pemilu kita dengar, baca dan saksikan dalam hingar-bingar berita pemilu tahun ini, membuat kita geleng-geleng kepala. Sedih dan masygul, tapi itulah realitas pemilu kali ini, pemilu ketiga dalam era reformasi, setelah 1999 dan 2004. Pemilu terburuk dalam era reformasi, begitu yang diklaim beberapa praktisi pemilu, analis politik maupun orang partai sendiri.
KPU meminta maaf seraya bilang, tak ada pemilu sempurna. Begitu naif dan bodohnya pernyataan terakhir. Kita bukan bicara soal kesempurnaan, tapi relativitas pemilu yang baik, pemilu yang melewati standard yang diinginkan rakyat Indonesia. Pemilu yang setidaknya sama kualitasnya dengan Pemilu 2004. Bukan hari ini harusnya lebih baik dari hari kemarin?
Panwaslu dan Bawaslu kebanjiran pengaduan. Partai-partai sudah ancang-ancang akan menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Sementara lembaga survei berebut nama lewat penayangan quick count yang lebih banyak mematahkan semangat orang dan memupuskan harapan lebih cepat daripada seharusnya.
Jika prediksi pakar kesehatan mental akan banyaknya caleg yang stres akibat kegagalan dalam pemilu, maka dengan kondisi pemilu yang berselemak-peak ini, tentu makin banyak caleg yang stres dan marah, seraya menuding KPU lah yang merusak cita-cita mereka.
Tak mudah memang di negara yang reformasinya baru berumur 11 tahun ini menggelar pemilu yang diikuti oleh 150 jutaan pemilih, dengan kerepotan multipartai dan banyaknya kamar legislatif, serta mungkin alasan klasik, kurangnya dana. Tapi, jika Pemilu 2004 bisa digolongkan sukses, kenapa 5 tahun setelah itu justru makin buruk pelaksanaannya?
Menyalahkan KPU semata tidak juga adil, jika memang UU dan peraturan serta DPR beserta pemerintah yang merumuskan dan mengesahkan rule of game tidak mengantisipasi persoalan dari awal secara telaten, tidak juga mempertimbangkan cukupnya waktu untuk bisa sempurnanya pelaksanaan tahap-tahap pemilu sejak KPU dibentuk maupun perangkat hukum yang disiapkan. Misalnya, bagaimana konsekuensi dari tertukarnya surat suara? Siapa yang bisa dihukum? Apakah kompensasi bagi caleg yang jadi korban? Pertanyaan umumnya, sudah siapkah bangsa ini dengan pelaksanaan pemilu yang memilih nama caleg langsung dengan cara mencentang?
KPU dan perangkat di kelurahan mestinya dipertanyakan juga komitmen mereka bagi majunya bangsa ini, jika masih banyak keluhan soal Daftar Pemilih Terdaftar (DPT). Misalnya, ada simpatisan partai-partai tertentu (biasanya bukan partai yang berkuasa) yang tak terdaftar secara sengaja dalam DPT. Kasus Mandra dan simpatisan partainya di Jakarta bisa jadi salah satu contoh buruknya penanganan isu DPT.
Bahkan, teman saya yang jelas diketahui simpatisan partai tertentu tidak tercantum dalam DPT meski ia memiliki KTP di kelurahan. Yang saya takutkan dari isu DPT, jika ini caranya kelompok berkuasa memanfaatkan elemen KPU yang bertalian erat dengan aparat pemerintah untuk menjegal parta-partai yang dianggap saingan dalam meraih suara?
Sejak dari pemilu walikota 2007, pemilu gubernur 2008 dan Pemilu legislatif 2009 di kota saya ini, Pekanbaru, saya sering mendengar teman-teman maupun sanak famili saya yang tidak terdaftar dalam DPT, padahal mereka memiliki KTP di tempat domisili. Sudah saatnya, semua pihak di negeri ini membereskan dugaan manipulasi DPT ini, karena ini tak ubahnya dengan praktek zaman Orba ala Soeharto.
Kalau ada yang ingin menang pemilu dengan cara-cara Soehartois, maka aiblah bagi bangsa ini yang dengan gagahnya mengklaim memiliki pemilu demokratis maupun telah memasuki zaman reformasi. Anggota KPU memang tidak seharusnya berebut pergi ke luar negeri untuk sosialisasi pemilu, tapi membereskan penyakit-penyakit pemilu dari zaman dahulu, termasuk akses warga untuk bisa menyalurkan hak konstitusionalnya.
Ah, saya hanya berharap ongkos mahal yang dipakai untuk pemilu, oleh siapapun yang memodalinya, memang ada manfaatnya bagi perbaikan bangsa ini di lima tahun mendatang. Orang-orang yang berniat baik untuk memperbaiki bangsa ini mendapat balasan dariNYA, dan mereka yang berniat dan berbuat buruk juga mendapat ganjaran setimpal. Semoga Pemilu tak lagi jadi pembuat pilu.
SEKARANG JUGA, HENTIKAN PEMBANTAIAN !!!!
Di zaman beradab ini masih juga ada kekuatan terorisme negara dari Zionis Israel yang tidak menghargai kemanusiaan. Dan dunia hanya berpangku tangan. Banyak sudah demo, protes, umpatan, makian, analisis, seruan, fatwa, dan sebagainya kemarahan bagi Israel, tapi anakanak, bayibayi, perempuanperempuan dan warga Palestina dibantai oleh mesin pembunuh milik Israel dan kebanyakan buatan Amerika Serikat.
PBB telah mandul, DK PBB banci, Uni Eropa hipokrit, Mesir pengkianat, AS munafik, tapi tetap saja nyawanyawa meregang, genocide melanda bangsa Palestina di negerinya sendiri.
Media barat -sebagian besar- dan sedikit media di Indonesia terplintir dan memplintir fakta seolah Hamas jadi biangnya.
Apa yang bisa kulakukan selain marah dan berdoa kepadaNYA semua yang terkurung, bersedih, muram, malang dan terluka diberi kekuatan dariNYA serta balasan surga.
Kenapa dunia Islam dan Arab tidak bisa bersatu dan kuat? Kenapa tatanan organisasi dunia dibuat tidak adil? Kenapa ada veto? Paling aku hanya mengumpat dan mengumpat, sementara anakanak Palestina dibantai oleh Zionis Israel, perampok tanah Arab.
Catatan Bukit Tigapuluh
Ketika masuk hutan sehutanhutannya, kenapa udara jadi sejuk, konserto satwa alam terdengar indah, anggun, bahkan tangisan raja rimba terdengar mengiba menikamhati; dan rongkang terbang lurus dari pohon besar meranti ke pohon lainnya seolah menyambut datangnya pagi yang berkabut.

Temanku ingin menangis, katanya kalau ingat tak lama lagi rimba alam ini jadi kebun akasia. Tak kan mereka rasakan ini hutan begitu dingin dan menenangkan daripada sekedar fulus dari pulp yang merusak bumi ini? Kenapa diusik juga sekeping rimba yang tertinggal di bumi melayu tua ini?
Apakah mereka yang mengeluarkan secarik kertas izin menghabisi hutan bisa merasakan indahnya dan magisnya hutan, atau uang di pelupuk mata yang lebih tampak? Kepada siapa lagi mengadu selain kepadaNYA jika manusia yang diberikan otoritas melindungi hutan justru…Semoga aku salah adanya.
-thought on 30 april – 1 may 2008
Ini Kado dari Pemerintah
Ini Kado dari Pemerintah
(bagi 100 th Kebangkitan Bangsa dan 10 th Reformasi)
Peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa maupun pengingatan 10 tahun Reformasi setidaknya tiga tokoh cukup berintegritas telah tiada, aktor Sophan Sophiaan, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, dan tokoh perempuan S.K Trimurti. Semoga Allah mengampuni mereka dan menerima amalan mereka. Amien.
Akhirnya, BBM pun dinaikkan harganya oleh pemerintah. Demonstrasi meminta pemerintah membatalkan rencana itu, maupun desakan sejumlah kalangan tak digubris.
Demo anti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah daerah yang cukup panas dengan bentrokan melibatkan mahasiswa dan polisi, bahkan polisi masuk menyerang kampus!
Sementara, yang lebih penting, kenaikan harga barang telah terjadi sebelum dan setelah pengumuman kenaikan BBM itu.
Para penentang keputusan pemerintah SBY cukup gusar dengan ketidakpedulian pemerintah yang mengabaikan suara-suara menentang itu. Sementara barangbarang bahan pokok sudah naik, rakyat jualah yang menanggung paling berat dari kenaikan ini, karena semua barang dan jasa mendapat dampak domino dari kenaikan BBM.
Kalau ada penekanan penguasa bahwa kenaikan karena subsidi dinikmati segelintir masyarakat Indonesia, maka kita tunggulah, siapa yang paling banyak dan menderita terkena serangan kenaikan ini: apakah yang segelintir ini atau rakyat kebanyakan yang banyak itu? Apakah jumlah penderita busung lapar tidak akan meningkat? Apakah jumlah pengangguran tidak akan bertambah? Apakah biaya sekolah/pendidikan tidak akan melesat naik? Apakah harga obat dan pengobatan tidak akan naik?
Sementara kita tahu, pemerintah tidak mampu mengendalikan para spekulan dan penimbun barang. Maka, minyak tanah dan bensin langka, elpiji langka, setelah itu barang bahan pokok naik lagi, padahal sebelum diumumkan sudah naik. Para penumpang angkutan pun dipaksa membayar mahal secara tak resmi, karena sopir membeli minyak dengan harga baru (yang mahal). Konsumen tidak berdaya di negeri ini, meski di koran-koran, di teve-teve para pejabat seolah batman yang berani memberantas keberingasan para spekulan itu. Padahal, dari dulu, pasar liar inilah yang tak bisa dikendalikan pemerintah. Juga spekulan minyak dan gas, siapa yang bisa menghukumnya?
Maka, berderetlah kekecewaan pada pemerintah kini. Mereka tak ada bedanya dengan pemerintah-pemerintah sebelumnya, yang selalu memilih cara tergampang dan tak memakai otak berat: naikkan BBM, kurangi subsidi BBM. Jadi, orang-orang tak perlu bersekolah tinggi, tak perlu punya ahli ekonomi lulusan Amrik, bisa memakai cara ini jika mereka memerintah. Cara paling gampang dan bodoh. Karena tidak kreatif dan tidak pernah melihat sesuatu secara introspektif. Selalu yang dijadikan sasaran: kelompok kecil yang mampu. Tapi menembakkan semua meriam ke semua rumah, rumah reot dan lapuk jadi ikut hancur.
Lalu, iming-iming tak mendidik dipakailah: penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Uang diberikan secara tunai kepada masyarakat miskin. Padahal kita tahu, cara ini tidak mendidik dan bersifat tidak solutif.
Lalu, dua menteri beriklan ria di layar kaca, seolah-olah paling merasakan nasib rakyat kecil. Padahal mereka itu penggemar berat (fans, bahasa anak mudanya!) IMF dan World Bank. Seorang menteri yang makin sejahtera dan terkaya di negeri ini juga menyuarakan suara peduli wong cilik. Moga-moga penonton tv itu tidak jantungan menyaksikannya, masih bisa mengurut-urut dada yang makin kerempeng ini.
Bagusnya, sejumlah kepala daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menyuarakan pesimisme mereka dengan sogokan ala BLT ini. Keberatan dari mereka yang mencoba memahami gejolak masyarakatnya, dan menilik dari pengalaman buruk sebelumnya. Ada juga unsur pemerintah (dari daerah lho) yang berpikir lebih panjang dan arif dibanding mereka yang mencengkram negeri ini dengan kuasanya yang tak jelas untuk siapa.
Lalu, apa peranan parlemen? Itulah, ada partai yang keberatan, tapi mereka tak cukup serius membela rakyat kecil dari keterpurukan ekonomi ini. Sangat lemah atau melemahkan diri di hadapan para penguasa eksekutif itu. Kini kabarnya mereka akan mengajukan interpelasi dan hak angket. Tapi, lihat saja, jangan berharap banyak dululah.
Ahh, kita berharap pada mahasiswa demonstran lagi, yang bahkan sebagian kecil ada juga mantan mahasiswa angkatan 1998 itu? Maka terdengar lagi nama Forkot dan seorang mantan pejabat yang ikut memprotes, bahkan turun ke jalan. Seakan-akan diingatkan pada kurun 10 tahun silam? Deja vu sepuluhtahunan.
Blogger ini orang awam soal ekonomi negara, Cuma bisa mengimbau: mbok ya kreatif lah jadi pemerintah. Jangan selalu memelaratkan rakyat, karena itu bukanlah amanat yang dibebankan dari konstitusi.
Memakmurkan rakyat itu tujuan anda dipilih jadi pemerintah negeri ini. Kalau hanya bisa menambah pundi-pundi orang-orang anda (termasuk pejabat yang pengusaha), ataupun menambah kaya investor asing tapi merugikan negeri ini, maka anda salah tempat duduk. Kalau Anda banyak mengeluh, tapi selalu minta pengorbanan orang miskin, maka Anda salah tempat. Lebih baik anda mundur jika tak berkomitmen memakmurkan bangsa ini.
Lebih baik anda pergi jika tak berniat melindungi kekayaan negeri ini. Ini adalah negeri yang terancam karam, jadi jangan ditambah lagi bocoran-bocoran yang membuat makin banyak air laut menenggelamkan kapal. Jangan kau jual perusahaan negeri jika itu menambah sengsara negara. Tapi, jika kau sama saja seperti rezim-rezim sebelumnya yang doyan memperkaya orang asing dan mendapat keuntungan dari hal itu –apalagi kau mempersiapkan uang untuk pemilu 2009—maka laknat Allah lah untuk kau.
Jika rakyat sudah muak, tak ada pilihan lain, maka akan banyak orang yang turun ke jalan. Angka-angka frustrasi akan melesat tak terduga. Terlalu besar ongkos sosial diakibatkan ketidakpedulian rezim yang tak pernah berubah seperti para pendahulunya itu.
Dan masih terngiang, orasi demonstran sepuluh tahun silam: “Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan!!!”
NB: buat para perintis kebangkitan bangsa, orang-orang seabad setelah anda terlalu ‘lugu’ untuk bisa memahami apa itu kebangkitan..maafkan yah..
Ini Kado dari Pemerintah
Ini Kado dari Pemerintah
(bagi 100 th Kebangkitan Bangsa dan 10 th Reformasi)
Peringatan 100 tahun Kebangkitan Bangsa maupun pengingatan 10 tahun Reformasi setidaknya tiga tokoh cukup berintegritas telah tiada, aktor Sophan Sophiaan, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin, dan tokoh perempuan S.K Trimurti. Semoga Allah mengampuni mereka dan menerima amalan mereka. Amien.
Akhirnya, BBM pun dinaikkan harganya oleh pemerintah. Demonstrasi meminta pemerintah membatalkan rencana itu, maupun desakan sejumlah kalangan tak digubris.
Demo anti kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah daerah yang cukup panas dengan bentrokan melibatkan mahasiswa dan polisi, bahkan polisi masuk menyerang kampus!
Sementara, yang lebih penting, kenaikan harga barang telah terjadi sebelum dan setelah pengumuman kenaikan BBM itu.
Para penentang keputusan pemerintah SBY cukup gusar dengan ketidakpedulian pemerintah yang mengabaikan suara-suara menentang itu. Sementara barangbarang bahan pokok sudah naik, rakyat jualah yang menanggung paling berat dari kenaikan ini, karena semua barang dan jasa mendapat dampak domino dari kenaikan BBM.
Kalau ada penekanan penguasa bahwa kenaikan karena subsidi dinikmati segelintir masyarakat Indonesia, maka kita tunggulah, siapa yang paling banyak dan menderita terkena serangan kenaikan ini: apakah yang segelintir ini atau rakyat kebanyakan yang banyak itu? Apakah jumlah penderita busung lapar tidak akan meningkat? Apakah jumlah pengangguran tidak akan bertambah? Apakah biaya sekolah/pendidikan tidak akan melesat naik? Apakah harga obat dan pengobatan tidak akan naik?
Sementara kita tahu, pemerintah tidak mampu mengendalikan para spekulan dan penimbun barang. Maka, minyak tanah dan bensin langka, elpiji langka, setelah itu barang bahan pokok naik lagi, padahal sebelum diumumkan sudah naik. Para penumpang angkutan pun dipaksa membayar mahal secara tak resmi, karena sopir membeli minyak dengan harga baru (yang mahal). Konsumen tidak berdaya di negeri ini, meski di koran-koran, di teve-teve para pejabat seolah batman yang berani memberantas keberingasan para spekulan itu. Padahal, dari dulu, pasar liar inilah yang tak bisa dikendalikan pemerintah. Juga spekulan minyak dan gas, siapa yang bisa menghukumnya?
Maka, berderetlah kekecewaan pada pemerintah kini. Mereka tak ada bedanya dengan pemerintah-pemerintah sebelumnya, yang selalu memilih cara tergampang dan tak memakai otak berat: naikkan BBM, kurangi subsidi BBM. Jadi, orang-orang tak perlu bersekolah tinggi, tak perlu punya ahli ekonomi lulusan Amrik, bisa memakai cara ini jika mereka memerintah. Cara paling gampang dan bodoh. Karena tidak kreatif dan tidak pernah melihat sesuatu secara introspektif. Selalu yang dijadikan sasaran: kelompok kecil yang mampu. Tapi menembakkan semua meriam ke semua rumah, rumah reot dan lapuk jadi ikut hancur.
Lalu, iming-iming tak mendidik dipakailah: penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT). Uang diberikan secara tunai kepada masyarakat miskin. Padahal kita tahu, cara ini tidak mendidik dan bersifat tidak solutif.
Lalu, dua menteri beriklan ria di layar kaca, seolah-olah paling merasakan nasib rakyat kecil. Padahal mereka itu penggemar berat (fans, bahasa anak mudanya!) IMF dan World Bank. Seorang menteri yang makin sejahtera dan terkaya di negeri ini juga menyuarakan suara peduli wong cilik. Moga-moga penonton tv itu tidak jantungan menyaksikannya, masih bisa mengurut-urut dada yang makin kerempeng ini.
Bagusnya, sejumlah kepala daerah (provinsi dan kabupaten/kota) menyuarakan pesimisme mereka dengan sogokan ala BLT ini. Keberatan dari mereka yang mencoba memahami gejolak masyarakatnya, dan menilik dari pengalaman buruk sebelumnya. Ada juga unsur pemerintah (dari daerah lho) yang berpikir lebih panjang dan arif dibanding mereka yang mencengkram negeri ini dengan kuasanya yang tak jelas untuk siapa.
Lalu, apa peranan parlemen? Itulah, ada partai yang keberatan, tapi mereka tak cukup serius membela rakyat kecil dari keterpurukan ekonomi ini. Sangat lemah atau melemahkan diri di hadapan para penguasa eksekutif itu. Kini kabarnya mereka akan mengajukan interpelasi dan hak angket. Tapi, lihat saja, jangan berharap banyak dululah.
Ahh, kita berharap pada mahasiswa demonstran lagi, yang bahkan sebagian kecil ada juga mantan mahasiswa angkatan 1998 itu? Maka terdengar lagi nama Forkot dan seorang mantan pejabat yang ikut memprotes, bahkan turun ke jalan. Seakan-akan diingatkan pada kurun 10 tahun silam? Deja vu sepuluhtahunan.
Blogger ini orang awam soal ekonomi negara, Cuma bisa mengimbau: mbok ya kreatif lah jadi pemerintah. Jangan selalu memelaratkan rakyat, karena itu bukanlah amanat yang dibebankan dari konstitusi.
Memakmurkan rakyat itu tujuan anda dipilih jadi pemerintah negeri ini. Kalau hanya bisa menambah pundi-pundi orang-orang anda (termasuk pejabat yang pengusaha), ataupun menambah kaya investor asing tapi merugikan negeri ini, maka anda salah tempat duduk. Kalau Anda banyak mengeluh, tapi selalu minta pengorbanan orang miskin, maka Anda salah tempat. Lebih baik anda mundur jika tak berkomitmen memakmurkan bangsa ini.
Lebih baik anda pergi jika tak berniat melindungi kekayaan negeri ini. Ini adalah negeri yang terancam karam, jadi jangan ditambah lagi bocoran-bocoran yang membuat makin banyak air laut menenggelamkan kapal. Jangan kau jual perusahaan negeri jika itu menambah sengsara negara. Tapi, jika kau sama saja seperti rezim-rezim sebelumnya yang doyan memperkaya orang asing dan mendapat keuntungan dari hal itu –apalagi kau mempersiapkan uang untuk pemilu 2009—maka laknat Allah lah untuk kau.
Jika rakyat sudah muak, tak ada pilihan lain, maka akan banyak orang yang turun ke jalan. Angka-angka frustrasi akan melesat tak terduga. Terlalu besar ongkos sosial diakibatkan ketidakpedulian rezim yang tak pernah berubah seperti para pendahulunya itu.
Dan masih terngiang, orasi demonstran sepuluh tahun silam: “Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan!!!”
NB: buat para perintis kebangkitan bangsa, orang-orang seabad setelah anda terlalu ‘lugu’ untuk bisa memahami apa itu kebangkitan..maafkan yah..
zaman sulit, sulit percaya siapa
Beritaberita di media mengabarkan dunia di ambang resesi, bahkan depresi ekonomi. di negeri ini minyak mau dinaikkan harganya, tentu barang dan jasa akan membumbung tinggi. tak jadi bulan mei, juni mungkin saja diketuk tuh palu kenaikan harga BBM.
Cuma yang terbayang, berapa derita orangorang kurang mampu, setelah didera berkalikali kenaikan harga barang? Belum dinaikkan BBM, sudah tak terhitung naiknya harga bahan pokok dan sembako.
Subsidi BBM dicabut, dikurangi, dengan dalih akan bisa menghasilkan uang untuk si miskin, sudah berapa kali ini terdengar dari berbagai rezim yang berganti? Entah namanya JPS, atau yang kini pakai akhiran “kin”, tapi tetap saja kita dengar anak busung lapar, anak dan ibu mati kelaparan, dan angka pengangguran yang terus bertambah.
Apa yang dinanti dari pemerintah dan politisi/parlemen/parpol adalah ketegasan melindungi dan mengayomi kelompok rakyat miskin. Jika minyak tanah diantri sampai mengular di terik panas, dan konversi gas elpiji ditunjukkan dengan kesulitan mendapatkannya –di luar harga mahal sekali beli– maka apatisme di kalangan orang banyak satu keniscayaan. Bahasa klise semboyan dan iklan basi: kami butuh bukti, bukan janji! Begitu juga yang dimaui orang kebanyakan, kalau kita mau mencoba memahaminya.

Hemat energi harus dimulai, teriak pemerintah. Bagus itu, jadi ingat semboyan Soeharto di zamannya: kencengken ikat pinggang! Tapi, yang punya mobil banyak, mobil bersilinder tinggi, rumah besar dibenderangi lampulampu banyak perabot elektronik; dan kantorkantor pemerintah terus terang sepanjang siang dan petang?
Kalau mau serukan hemat energi, mulailah dari diri sendiri yang menyerukan: pemerintah. kalau mobil banyak di setiap keluarga pejabat, kurangilah, maka konsumsi BBM untuk mereka juga berkurang, setidaknya beban negara juga berkurang. Kalau di kantor banyak mobil dinas yang kurang perlu, kurangi pemakaian dan operasionalnya. batasi juga penggunaan pribadi dan dinas. Hal-hal sederhana dan basi dari duludulu dituntut banyak orang, tapi belum ada action saja.
Di zaman sulit melilit ini, pada siapa orang awam memberikan kepercayaannya? Silakan, bagi yang mau mementahkan asumsi ini sebagai satu kekeliruan untuk menjawabnya. Sejarah akan mencatat orangorang yang benarbenar berkomitmen bagi banyak orang, maupun yang mengkianati amanat banyak orang.
Kita harapkan para pihak yang diberi wewenang memakmurkan bangsa ini tidak putus asa mendapat kritik dan saran yang kedengarannya bawel, bahkan bisa terancam gugatan melalui serangkaian UU yang mengurangi kebebasan berpendapat. Tapi, tujuan kritik ini untuk mengingatkan dan meminta keseriusan pihak yang bertanggungjawab. Setiap orang bertanggungjawab atas kepemimpinannya, bahkan seorang individu, dia juga memimpin dirinya maupun keluarganya. Begitu ajaran agama yang kuketahui.
Dan, tulisan ini merupakan bagian tanggungjawab pengeblog sebagai komponen kecil bangsa ini.
kepada para untouchables
di negeri ini masih banyak yang memiliki impunitas yang immune dari segala aturan. mereka korupsi tapi tak dideteksi. mereka maling tapi banyak orang pangling. ada juga yang cuma mikirin jabatan nanti, kekuasaan nanti, lalu lupa dengan tugas sekarang. formalitas dan pencitraan dianggap keberhasilan. padahal jutaan mulut nganga, gelap yang tampak adanya. anakanak muda itu gagap mencari pegangan hidup, betapa dunia seperti di neraka tanpa ada kerja dan kehormatan diri. lalu orang-orang itu berteriak di media entah untuk siapa, entah untuk apa. orang-orang menulis entah apa gunanya, menyiarkan siaran entah ada gunanya. selain itu-itu saja, selain begitu-begitu saja. jutaan bayi tercampak, entah siapa yang bersalah. jutaan orang kecewa, entah kenapa itu bisa. kenapa juga mesti pesimisme dipersalahkan kalau untuk suarakan peringatan. kepedulian. optimisme tanpa reformasi, hasilnya basi. positif tapi masih dikungkung negativisme, sama saja bohong. suara keras terkadang itu perlu. karena banyak telinga tak sudi mendengar, banyak muka merasa selalu benar. dan business as usual, as soeharto rules, ketika kekayaan negeri ini dirampok oleh banyak perampok. maling dalam dan luar negeri. tapi tak terdeteksi hingga kini. kepada para untouchables, semogaa…[harap maklum]
Banjir Kenapa (2)
Bukan Jakarta saja yang banjir sejak musim hujan bergulir beberapa bulan lalu. Hampir semua daerah mendapat banjir maupun longsor, dengan intensitas yang berbeda. Cuma satu yang perlu dikritisi, apakah kita sudah maksimal melindungi hutan dan wilayah di sekitar sungai??
Saya tak usah berpanjang-panjang dalam hal ini. Selagi hutan-hutan dibabat habis, banjir akan selalu datang dengan tingkat keparahan yang tinggi. Kasihannya, yang merasakan dampaknya tentu masyarakat kecil di sekitar sungai. Sedangkan para cukong, pejabat korup, aparat korup biasanya lolos dari hantaman banjir dan longsor.
Secara singkat, banjir kenapa di seluruh Indonesia, karena hutan-hutan ditebangi, lingkungan dirusak, daya dukung alam dihancurkan. Siapa yang merusak? Siapa saja. Orang pemerintah, orang swasta, orang tentara, orang polisi, orang LSM, orang media, orang asing, dan orang umum, semua punya tanggungjawab atas kehancuran alam ini, sedikit atau banyak.
Tanya banjir? Tanya pada rumput yang bergoyang…